Surat dari Masa Lalu yang Mengubah Segalanya: Kebenaran yang Selama Ini Tersembunyi – Bab 9

Surat dari Masa Lalu

Bab 9 dari serial “Istriku Memilih Pergi Saat Aku Bangkrut”

Gudang yang Hampir Terlupakan

Proyek baru membuat bengkel semakin sibuk.

Karena membutuhkan ruang tambahan, aku memutuskan membersihkan gudang lama yang berada di belakang bangunan.

Gudang itu dipenuhi rak berdebu, kardus usang, dan peralatan yang tidak lagi digunakan.

Di sudut ruangan, sebuah lemari besi kecil menarik perhatianku.

Lemari itu adalah peninggalan kantor lamaku, yang belum pernah kubuka sejak usahaku bangkrut.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kunci tua itu masih berfungsi.

Pintunya terbuka perlahan.

Di dalamnya hanya ada beberapa map dan sebuah amplop putih yang sudah menguning.

Di bagian depan amplop tertulis:

“Untuk Arga. Harap dibaca secara pribadi.”

Tidak ada nama pengirim.

Surat yang Tak Pernah Sampai

Aku membuka amplop itu dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat surat yang ditulis tangan.

Arga, jika surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaanmu. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Beberapa laporan keuangan yang kamu tandatangani bukanlah laporan asli. Seseorang telah mengubah angka-angkanya sebelum sampai ke mejamu. Aku ingin memberitahumu lebih awal, tetapi aku takut kehilangan pekerjaan.

Aku membaca kalimat demi kalimat dengan napas yang semakin berat.

Di bagian akhir tertulis:

Maaf karena aku tidak cukup berani mengatakan yang sebenarnya.

Tidak ada tanda tangan.

Hanya sebuah huruf kecil.

“S.”

Kenangan yang Muncul Kembali

Pikiranku langsung melayang ke masa lalu.

Aku teringat seorang staf administrasi bernama Santi.

Ia dikenal teliti, tetapi mengundurkan diri beberapa minggu sebelum usahaku benar-benar runtuh.

Saat itu aku mengira ia pindah karena mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Bagaimana jika alasan sebenarnya berbeda?

Nama yang Kembali Disebut

Aku menghubungi Bimo, mantan kepala gudang yang kini membuka toko material.

“Bim, kamu masih ingat Santi?”

“Masih.”

“Kenapa memang?”

“Aku baru menemukan surat darinya.”

Di seberang telepon terdengar keheningan.

“Ga… sebenarnya ada satu hal yang tidak pernah sempat kuberitahukan.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Aku pernah melihat Santi menangis di parkiran kantor.”

“Dia bilang ada sesuatu yang salah dengan laporan keuangan.”

“Tapi dia tidak mau menjelaskan.”

Potongan-Potongan Puzzle

Malam itu aku membuka laptop lama yang masih kusimpan.

Sebagian besar datanya memang hilang.

Namun beberapa salinan laporan keuangan masih tersimpan.

Aku mulai membandingkan angka demi angka.

Semakin lama aku melihatnya, semakin banyak kejanggalan yang kutemukan.

Beberapa transaksi ternyata tidak pernah masuk ke rekening perusahaan.

Ada pembayaran yang tercatat lunas, tetapi uangnya tidak pernah kuterima.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Apakah kebangkrutanku selama ini bukan semata karena kondisi ekonomi?

Percakapan dengan Rina

Aku meminta Rina datang ke bengkel malam itu.

Setelah membaca surat tersebut, ia terdiam cukup lama.

“Arga…”

“Aku ingat.”

“Apa?”

“Beberapa bulan sebelum kita bangkrut, aku pernah bertanya kenapa laporan kas berbeda dengan catatan yang kubuat.”

“Dan kamu bilang mungkin hanya salah hitung.”

Aku memejamkan mata.

Saat itu aku terlalu sibuk mengejar proyek baru hingga menganggap semua perbedaan angka hanyalah kesalahan administrasi biasa.

Ternyata mungkin bukan.

Pilihan yang Sulit

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rina.

Aku memandang surat itu.

Kalau semua ini benar, berarti ada seseorang yang telah mengkhianati kepercayaanku.

Namun kejadian itu sudah lebih dari dua tahun berlalu.

Apakah masih ada gunanya mencari kebenaran?

Rina tersenyum tipis.

“Mungkin bukan soal menghukum seseorang.”

“Tapi soal memberi dirimu jawaban yang selama ini kamu cari.”

Aku mengangguk perlahan.

Selama bertahun-tahun aku menyalahkan diriku sendiri.

Mungkin sudah waktunya mencari fakta, bukan sekadar penyesalan.

Telepon Tengah Malam

Saat hendak menutup bengkel, ponselku berdering.

Nomor yang tidak kukenal.

“Apakah saya sedang berbicara dengan Pak Arga?”

“Ya.”

“Saya Santi.”

Aku membeku.

“Saya mendengar Bapak sedang mencari saya.”

Suara di seberang terdengar gugup.

“Kalau Bapak masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi… kita perlu bertemu.”

Belum sempat aku bertanya lebih jauh, sambungan telepon terputus.

Aku memandangi layar ponsel.

Nama yang selama ini hanya menjadi kenangan kini kembali hadir.

Dan mungkin…

Ia membawa jawaban yang selama ini kucari.

Pesan Moral

Tidak semua kegagalan terjadi karena kurangnya kemampuan atau usaha. Ada kalanya kebenaran baru muncul setelah waktu yang panjang. Meski begitu, mencari fakta bukan untuk membalas dendam, melainkan agar kita dapat berdamai dengan masa lalu berdasarkan kenyataan, bukan prasangka.