Keputusan yang Akan Menentukan Masa Depan Kami – Bab 8

rajaya blog

Bab 8 dari serial “Istriku Memilih Pergi Saat Aku Bangkrut”

Tawaran yang Datang Terlalu Cepat

Seminggu setelah acara peresmian perusahaan Pak Hendra, teleponku kembali berdering.

“Pak Arga, kami ingin memperluas kerja sama.”

Suara itu berasal dari manajer operasional perusahaan.

“Kami ingin Bapak memimpin proyek pemeliharaan di tiga kota sekaligus.”

Aku terdiam.

“Tapi proyek ini mengharuskan Bapak tinggal di luar kota selama enam bulan.”

Enam bulan.

Bukan waktu yang sebentar.

Aku langsung teringat wajah Alya.

Kabar dari Rina

Sore harinya Rina menghubungiku.

“Aku juga ingin memberitahumu sesuatu.”

“Ada apa?”

“Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan desain interior.”

“Itu kabar baik.”

“Iya… tapi kantornya di Bandung.”

Aku memejamkan mata.

Seolah takdir kembali menguji kami.

Jika aku menerima proyek itu dan Rina pindah ke Bandung, siapa yang akan menemani Alya?

Percakapan Bertiga

Malam itu kami bertemu di rumah.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, kami duduk bersama membicarakan masa depan tanpa saling menyalahkan.

“Aku bisa menolak pekerjaan itu,” kata Rina.

Aku menggeleng.

“Jangan. Kamu sudah bekerja keras mendapatkannya.”

“Lalu bagaimana dengan proyekmu?”

“Aku juga belum tentu menerimanya.”

Ruangan kembali sunyi.

Alya yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat bicara.

“Kenapa orang dewasa selalu merasa harus mengorbankan mimpi?”

Aku dan Rina saling berpandangan.

Tidak ada jawaban yang mudah.

Nasihat dari Pak Hendra

Keesokan harinya aku menemui Pak Hendra.

Beliau mendengarkan ceritaku hingga selesai.

Kemudian beliau tersenyum.

“Arga, pemimpin yang baik bukan orang yang mengerjakan semuanya sendiri.”

Beliau melanjutkan,

“Kalau bisnismu hanya bisa berjalan saat kamu ada, berarti kamu belum membangun tim. Kamu baru membangun pekerjaan.”

Kalimat itu membuatku berpikir sepanjang perjalanan pulang.

Mungkin selama ini aku terlalu takut mempercayai orang lain.

Sebuah Keputusan Besar

Selama dua hari aku memikirkan semua kemungkinan.

Akhirnya aku menghubungi perusahaan.

“Saya menerima proyeknya.”

Jantungku berdebar.

“Tapi saya tidak akan berada di tiga kota itu setiap hari.”

“Saya akan membentuk tim teknisi lokal yang bekerja sesuai standar perusahaan.”

Di seberang telepon terdengar jeda beberapa detik.

Lalu suara itu menjawab,

“Itulah jawaban yang kami harapkan.”

Aku tersenyum lega.

Keputusan Rina

Malamnya aku menemui Rina.

“Aku juga sudah memutuskan.”

Aku menatapnya.

“Aku menerima pekerjaan itu.”

“Tapi…”

“Aku meminta perusahaan mengizinkanku bekerja secara bertahap selama tiga bulan pertama.”

“Setelah itu aku baru pindah jika memang diperlukan.”

Aku mengangguk.

“Itu keputusan yang baik.”

Kebahagiaan Alya

Saat kami memberi tahu Alya, wajahnya langsung berseri-seri.

“Jadi… kita masih bisa makan malam bersama setiap akhir pekan?”

Aku tersenyum.

“Selama Ayah tidak sedang keluar kota.”

Rina menambahkan,

“Dan selama Ibu tidak sedang lembur.”

Alya tertawa kecil.

“Berarti kita harus membuat janji.”

Setiap Sabtu malam.

Tidak boleh ada yang membatalkan.

Aku dan Rina mengangguk bersamaan.

Janji sederhana itu terasa lebih berharga daripada apa pun.

Sebuah Foto Baru

Sebelum pulang, Alya mengambil ponselnya.

“Foto dulu!”

Kami berdiri berdampingan.

Klik.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, kami memiliki foto keluarga yang baru.

Memang belum sempurna.

Namun senyum di foto itu terlihat jauh lebih tulus daripada yang pernah kami paksakan di masa lalu.

Pesan Moral

Kehidupan sering kali memaksa kita memilih di antara banyak hal yang sama-sama penting. Kedewasaan bukan berarti mengorbankan satu demi yang lain, tetapi mencari jalan terbaik agar impian dan keluarga tetap berjalan beriringan.