Surat yang Tidak Pernah Kukirim – Bab 3

rajaya blog

Bab 3 dari serial “Istriku Memilih Pergi Saat Aku Bangkrut”

Malam yang Sulit untuk Tidur

Pertemuan dengan Rina di kedai kopi masih terus terbayang di kepalaku.

Aku memandangi langit-langit kamar, tetapi mataku tak kunjung terpejam.

Sudah lama aku mengubur semua kenangan tentang kami.

Namun pertemuan itu seolah membuka kembali pintu yang selama ini sengaja kututup rapat.

Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju gudang kecil di belakang rumah.

Di sana masih tersimpan beberapa kardus berisi barang-barang lama yang belum pernah kubuka sejak perceraian.

Sebuah Kotak Berdebu

Saat membuka salah satu kardus, aku menemukan album foto, buku tabungan lama, dan beberapa dokumen usaha yang sudah tak bernilai.

Di bagian paling bawah, terselip sebuah amplop berwarna cokelat.

Namaku tertulis kecil di sudut kiri.

Tulisan tanganku sendiri.

Aku langsung mengenalinya.

Itu adalah surat yang kutulis dua tahun lalu, beberapa hari setelah Rina meninggalkan rumah.

Surat yang tidak pernah kukirim.

Kata-Kata yang Kusimpan Sendiri

Tanganku sedikit gemetar saat membuka amplop itu.

Kertasnya mulai menguning.

Tintanya masih jelas terbaca.

“Rina,

Aku tidak marah karena kamu pergi.

Aku hanya kecewa karena kita tidak berjuang bersama.

Aku tahu hidup sedang sulit.

Aku tahu aku gagal menjadi suami yang mampu memberikan rasa aman.

Tapi andai saja kamu bertahan sedikit lebih lama, mungkin kita bisa melewati semuanya bersama.

Jika suatu hari nanti kamu membaca surat ini, ketahuilah bahwa aku pernah sangat mencintaimu.

Dan sampai hari ini, aku tidak pernah menyesal pernah menjadi suamimu.”

Aku menutup surat itu perlahan.

Dadaku terasa sesak.

Bukan karena masih berharap kami kembali bersama.

Melainkan karena akhirnya aku menyadari betapa rapuhnya diriku saat itu.

Alya Menemukan Surat Itu

Pintu gudang terbuka perlahan.

“Ayah belum tidur?”

Suara Alya mengejutkanku.

Ia melihat surat yang masih berada di tanganku.

“Itu surat untuk Ibu?”

Aku mengangguk pelan.

Alya duduk di sampingku.

“Boleh aku membacanya?”

Aku menyerahkan surat itu tanpa berkata apa-apa.

Beberapa menit kemudian, kulihat air mata mengalir di pipinya.

“Ayah… kenapa surat ini tidak pernah dikirim?”

Aku tersenyum kecil.

“Karena saat itu Ayah sadar, tidak semua jawaban harus dicari. Kadang, kita harus belajar menerima bahwa seseorang memilih jalannya sendiri.”

Pertanyaan yang Selama Ini Disimpan

Alya memegang tanganku erat.

“Kalau Ibu pulang… apa Ayah mau memaafkannya?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Aku memikirkan semua rasa sakit yang pernah kurasakan.

Aku juga mengingat senyum Rina saat kami bertemu beberapa hari lalu.

“Memaafkan bukan hal yang sulit lagi.”

“Lalu?”

“Yang sulit adalah membangun kembali kepercayaan.”

Alya mengangguk pelan.

Seolah ia mengerti bahwa ada luka yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.

Sebuah Pesan di Ponsel

Keesokan paginya, saat sedang memperbaiki televisi milik pelanggan, ponselku bergetar.

Pesan dari nomor yang sudah lama tidak muncul.

Rina.

“Terima kasih sudah mau mendengarkanku kemarin.

Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun.

Tapi kalau Alya mengizinkan, akhir pekan nanti aku ingin mengajaknya makan siang.”

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu tanpa sadar, pandanganku kembali tertuju pada surat lama yang masih berada di meja kerja.

Surat yang tidak pernah sampai kepada pemiliknya.

Mungkin memang ada kata-kata yang lebih baik tetap menjadi kenangan.

Masa Lalu Tidak Bisa Diubah

Malam itu aku membakar beberapa dokumen lama yang sudah tidak diperlukan.

Namun surat itu tidak ikut kubakar.

Aku menyimpannya kembali.

Bukan sebagai harapan untuk kembali bersama.

Melainkan sebagai pengingat bahwa setiap keputusan dalam hidup selalu meninggalkan pelajaran.

Aku menatap langit yang dipenuhi bintang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar berdamai dengan masa lalu.

Pesan Moral

Tidak semua surat harus dikirim, dan tidak semua perasaan harus diungkapkan. Ada kalanya menerima kenyataan menjadi bentuk keberanian terbesar. Masa lalu bukan untuk dihapus, melainkan untuk dijadikan pelajaran agar kita melangkah lebih bijaksana di masa depan.