Pria yang Kini Mengisi Hidup Mantan Istriku: Cemburu yang Datang Terlambat – Bab 6

rajaya blog

Bab 6 dari serial “Istriku Memilih Pergi Saat Aku Bangkrut”

Kabar yang Mengusik Pikiran

Pekerjaan di bengkel semakin ramai sejak kerja sama dengan perusahaan milik Pak Hendra dimulai.

Aku sibuk mengatur jadwal teknisi baru yang mulai bergabung. Hidup terasa jauh lebih baik dibanding dua tahun lalu.

Namun suatu sore, seorang tetangga berkata tanpa sengaja,

“Pak Arga, tadi saya lihat Bu Rina dijemput seorang pria. Mobilnya bagus juga.”

Aku hanya tersenyum kecil.

“Begitu ya, Pak.”

Tetapi setelah kembali ke bengkel, kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Aku sudah bukan suaminya.

Aku tidak berhak merasa cemburu.

Lalu mengapa dadaku terasa sesak?

Pertemuan yang Tak Disengaja

Beberapa hari kemudian, aku mengantar Alya ke toko buku.

Saat sedang menunggu di area parkir, mataku menangkap sosok yang tidak asing.

Rina.

Ia berdiri di depan sebuah mobil berwarna putih.

Di sampingnya berdiri seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.

Mereka terlihat berbincang sambil tersenyum.

Pria itu kemudian membuka pintu mobil untuk Rina dengan sopan.

Aku memalingkan wajah.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa begitu berat.

Pertanyaan dari Alya

Di perjalanan pulang, Alya tiba-tiba bertanya,

“Ayah marah?”

“Marah kenapa?”

“Tadi lihat Ibu sama Om Dimas.”

Aku menoleh.

“Namanya Dimas?”

Alya mengangguk.

“Iya.”

“Om Dimas baik.”

“Dia sering membantu Ibu.”

Aku tidak bertanya lagi.

Dalam hati, aku mencoba menerima kemungkinan yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

Mungkin Rina memang sudah menemukan kebahagiaan yang baru.

Malam yang Penuh Renungan

Malam itu aku duduk sendirian di teras rumah.

Aku teringat semua nasihat yang pernah kuberikan kepada teman-temanku.

Bahwa setelah bercerai, setiap orang berhak melanjutkan hidup.

Namun ketika kenyataan itu datang kepadaku sendiri, ternyata menerimanya tidak semudah mengucapkannya.

Aku sadar.

Masih ada bagian kecil dalam diriku yang belum benar-benar melepaskan masa lalu.

Sebuah Pertemuan

Keesokan harinya, Rina datang ke bengkel untuk mengantar bekal makan siang Alya.

Ia terlihat ragu-ragu.

“Ada yang ingin kubicarakan.”

Aku mengangguk.

Kami duduk di ruang kecil belakang bengkel.

“Aku dengar… kamu bertemu Om Dimas,” katanya pelan.

Aku tersenyum.

“Berita memang cepat menyebar.”

Rina menarik napas panjang.

“Aku tidak ingin kamu salah paham.”

Siapa Sebenarnya Dimas?

“Mas Dimas adalah kakak sepupuku.”

Aku terdiam.

“Dia tinggal di luar kota selama bertahun-tahun.”

“Beberapa bulan terakhir dia kembali ke sini untuk mengurus usaha keluarganya.”

“Dia sering mengantarku karena tahu aku belum punya kendaraan.”

Aku mengembuskan napas lega.

Rina tersenyum kecil.

“Kamu mengira dia pacarku?”

Aku tertawa pelan.

“Sedikit.”

Sudah lama aku tidak tertawa bersama Rina seperti hari itu.

Pengakuan yang Mengejutkan

Rina menatapku cukup lama.

“Lagipula…”

“Aku belum siap membuka hati untuk orang lain.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Mengapa?”

“Karena masih banyak hal dalam hidupku yang belum selesai.”

Ia melanjutkan,

“Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Alya.”

“Aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan diriku sendiri.”

Jawaban itu terasa begitu jujur.

Sebuah Nasihat dari Pak Hendra

Sore harinya aku bertemu Pak Hendra.

Melihat wajahku yang lebih tenang, beliau tersenyum.

“Kadang kita terlalu sibuk takut kehilangan seseorang.”

“Padahal yang perlu dijaga adalah cara kita memperlakukan orang itu.”

Aku mengangguk.

“Kalau memang berjodoh, kalian akan menemukan jalannya.”

“Kalau tidak, tetaplah menjadi ayah yang baik.”

Kalimat itu sederhana.

Namun sangat menenangkan.

Senyum yang Kembali

Minggu berikutnya, kami bertiga kembali menghabiskan waktu bersama.

Alya tampak jauh lebih ceria.

Ia bercerita tentang sekolah, teman-temannya, dan cita-citanya menjadi seorang arsitek.

Aku dan Rina saling berpandangan.

Tanpa perlu banyak kata, kami sama-sama tahu bahwa kebahagiaan Alya adalah prioritas kami.

Masa depan masih penuh tanda tanya.

Namun untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut menghadapinya.

Pesan Moral

Rasa cemburu terkadang muncul bukan karena kita masih memiliki seseorang, tetapi karena kita belum sepenuhnya menerima kehilangan. Kedewasaan bukan berarti tidak pernah merasa cemburu, melainkan mampu mengelola perasaan itu tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.